Deru Napas dan Jerit Jiwaku

Deruku menyapa zaman, jeritku melempar sunyi malam

Friday, August 10, 2007

TAPAK BERDERAP (39)

NYANYIAN desir angin telaga, kini berganti nyanyian debur ombak. Bulat merah mentari pun sesaat lagi menggelincir di ufuk barat. Namun, cakrawala senja keemasan masih membentang luas, mengalahkan pekat langit. Dan sebentar lagi jutaan kerlap-kerlip menghiasi langit, menawarkan sejuta kesunyian nan menggoda.

Di senja ini ombak silih berganti datang dan pergi. Dan hanyalah alunan debur ombak membentur bibir pantai saat Sang Kembara sampai di tepi laut ini. Sesaat kemudian dingin angin laut mengibarkan rambut panjangnya. Teringatlah Kembara akan si pemilik rambut terurai nun jauh di ufuk timur.

Ah, andai tangan ini dapat mengelus panjang gemulai rambutnya, tapi mengarungi badai di lautan lepas adalah pilihannya saat ini. Entah, bila nanti pemilik rambut terurai nan gemulai itu mau pula menerjang ganasnya ombak.

Monday, July 16, 2007

TAPAK BERDERAP (38)

BERINGSUT dari puncak kegelisahan, akhirnya kian terjagalah Sang Kembara bahwasanya telaga teduh ini telah membius. Nyanyian alam memang sunyi belaka, namun kehidupan itu sendiri haruslah bergulir sebagaimana mestinya. Keluar dari jerat sunyi yang acap kali menampakkan kelam malam tak berbintang.

Kini, Kembara merindukan samudra. Mengarungi lautan lepas dengan terpaan badainya. Seperti gejolak jiwa saat ini menuju pengembaraan sejati menantang. Wahai sang bahari, kelana laut menjelang.

Saturday, June 30, 2007


TAPAK BERDERAP (37) *


KEMARAU menghampiri telaga itu. Sang Kembara pun berhenti sejenak setelah sekian lama melangkah melintasi hari-hari, gelap maupun terang, dalam pemahaman makna semu dan nyata. Kering pada musim ini memang tak terkira. Dan hanyalah keteduhan tepian telaga yang bisa sedikit membasuh keletihan jiwa Kembara, kendati keletihan itu sendiri sulit diingkari. Letih ini memang tetap ada, walau tak terasakan lantaran adanya pemahaman arti kehidupan.

Letih di musim ini juga tak menggoyahkan langkah Sang Kembara. Lintasan panjang masih terbentang, menanti ditelusuri dan dikaribkan. Dan adakah penantian yang tersisa padamu?

* setelah mendengar lantunan Kembara Lintas Panjang (Ebiet G. Ade)

Tuesday, June 12, 2007

TAPAK BERDERAP (36)

SEMBURAT kilau rembulan memantul malu-malu di tengah telaga. Pantulan seberkas cahaya yang tak menyilaukan Sang Kembara. Walau pantulan kilau itu berbeda dengan cermin bayang yang berujung sesat belaka. Dan cermin telaga bening ini jelas tak sebanding cermin buram bayang, buram masa lampau lantaran cermin telaga Kembara adalah kerinduan teramat dalam. Kerinduan yang mungkin sulit dimengerti siapa pun.

Dan jejak langkah Sang Kembara memang teramat panjang. Janganlah kiranya menebak dan menghentikan langkahnya. Dengarkan saja tapak yang berderap, berderap ke satu tujuan hakiki nan mulia. Dengan berkarib kesunyian alam, keheningan malam, dan kebeningan telaga kerinduan.

Monday, June 11, 2007

TAPAK BERDERAP (35)*

SENANDUNG malam mengusir keheningan telaga ini. Walau kesunyian dan keheningan hampir tiada beda bagi Sang Kembara. Keduanya sama-sama menanti serta memburu bayang-bayang kerinduan. Tiada beda pula, bila kegetiran ini memang tak bersambut. Ya, kerinduan ini bagaikan telaga yang senantiasa menyambut Kembara dengan ketenangan, tanpa badai seperti di laut lepas.

Dan senandung malam kali ini berbisik halus. Seakan mengantarkan suatu alunan lagu yang tak asing bagi Kembara.

* Terinspirasi dari Apakah Ada Bedanya, Ebiet G. Ade

Saturday, May 19, 2007

MURKA GELOMBANG

PAGI masih buta sekali tatkala samudra yang biasanya ramah itu mengganas. Lidah gelombangnya menyapu semua yang ada di bibir banyak pantai di pesisir selatan negeri ini. Tak peduli pondok milik si miskin maupun sang berdasi. Semua dihantam, semuanya diterjang. Sebuah lidah gelombang melebihi atap rumah, lidah lainnya bahkan nyaris mencapai tinggi pohon kelapa. Jerit tangis dan panik berbaur suara orang banyak berlari. Bukan tsunami memang, namun murka gelombang laut toh menghancurkan banyak pondok reot maupun gemerlap, baik perkampungan orang laut ataupun hunian rehat kaum pelancong berkantong tebal.

Tak banyak jiwa-jiwa yang melayang. Ini mungkin lantaran banyak penduduk negeri ini yang terpaksa bersahabat dengan bencana. Maklum, negeri ini berjuluk tak resmi: Negeri Bencana. Ironis, sungguh ironis. Padahal semenjak negeri ini dikenal dengan sebutan Nusantara, para kawula tersohor ramah kepada sesama makhluk hidup maupun bersahabat dengan alam. Tak berlebihan bila disebut nenek moyang negeri ini memahami bahasa alam, alam yang tak lain Bumi Pertiwi itu sendiri.

Dan sebuah lantunan milik seorang seniman bangsa ini pun lamat-lamat terdengar:

...Seringkali aku tak mampu menangkap / Isyaratmu lewat cuaca / Matahari, ombak di laut / Sering membisikkan yang bakal terjadi / Kadangkala aku memilih berdusta / Menghianati suara hati / Sesungguhnya kejujuran / Dapat menangkal semua malapetaka / Mari kita mencoba / Bersahabat dengan alam / Bumi, langit dan matahari / Bahasa mereka kita pelajari / Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia / Tuhan menghendaki kita pelihara / Bumi beserta seluruh isinya / Untuk itu kita harus memahami / Bahasa matahari / Sesungguhnya aku tak mampu menjawab / Ketika anakku bertanya / Ke manakah angin berhembus? / Seberapa banyakkah tempat berteduh? / Mari kita mencoba / Bersahabat dengan alam / Bumi, langit dan matahari / Bahasa mereka kita pelajari / Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia / Tuhan menghendaki kita pelihara / Bumi beserta seluruh isinya / Untuk itu kita harus belajar / Bahasanya semak belukar / Untuk itu kita harus memahami / Bahasa matahari.... *

* Bahasa Matahari (Ebiet G. Ade/2001)

(ANS/Celoteh Anak Bangsa)

Friday, May 18, 2007

TAPAK BERDERAP (34)*

LEMBAYUNG senja menggelayut indah di tepian telaga ini, ketika Sang Kembara meninggalkan kerisauan dan melabuhkan haluan sunyinya. Mungkin masih ada tersisa butiran asmara di telaga ini setelah lelah mengejar bayang-bayang.

Sang malam memang mencoba menenggelamkan kesunyian ini, namun tak kuasa. Terlebih kenangan hangat ramah jemarimu terasa kuat menjelma. Kerinduan mendalam, kerinduan tak tertahan lagi. Kerinduan `kan hadirmu...

* Terinspirasi dari Elegi Esok Pagi dan Aku Ingin Pulang (Ebiet G Ade).